Baik Tjhai Chui Mie maupun Me Hoa dinilai berhasil mempertahankan kepercayaan publik pasca-pemilihan melalui politics of presence (politik kehadiran). Keduanya konsisten merawat hubungan dengan konstituen dengan hadir langsung di tengah kehidupan sehari-hari masyarakat untuk mendengar dan merespons kebutuhan riil warga.
Penelitian doktoral ini menyimpulkan bahwa di tengah maraknya politik transaksional, patronase, dan simbol kekuasaan formal, model kepemimpinan relasional yang berbasis pada kepedulian nyata dan praktik keseharian merupakan pondasi utama. Melalui politik kehadiran inilah, masyarakat merasa dilihat dan didengar, sehingga kepercayaan sosial (social trust) dalam demokrasi lokal dapat terus terpelihara secara berkelanjutan.(*)
Editor
: Wilfred Manullang